Tulisan baru diproses
Potret demokrasi Aceh
April 9, 2008 by rumahdemokrasiTerorisme dan Keangkuhan Amerika
April 9, 2008 by rumahdemokrasi
Oleh : R. Hidayat
(Direktur rumahdemokrasi institute)
Terorisme global yang telah melahirkan berbagai kekerasan dan konflik kepentingan bukanlah sesuatu hal baru, kerana gejala peperangan, kekejaman, dan segala bentuk tindakan yang melampau batas kemanusiaan telah lama tercatat dalam sejarah panjang dunia. Chomsky (1986). Terorisme digunakan untuk menunjuk ancaman atau penggunaan kekerasan untuk menindas atau memaksa yang bertujuan politik. (Kegley 1990) Terrorism biasanya Aktiviti lebih eksklusif dan nongovernmental, Criminals, madmen, futile stategy, tidak dapat menerima perbedaan, membuat kacau, dan beberapa lainya. Hal ini boleh berlaku kerana ketidak puasan terhadap seseorang/negara tertentu atau tertekan oleh sistem yang berlaku.
Strategi mendasar dari terorisme adalah penyebaran ketakutan, dan dengan cara tersebut, mereka mendapatkan pengaruhnya. Bukannya mengusahakan agar keinginan mereka tercapai melalui cara yang lebih damai dan masuk akal, kelompok teroris malah memilih kekerasan, yang mereka anggap lebih tepat sasaran. Menurut para pelaku teroris, makin kejam dan merusak suatu tindak terorisme, semakin berpengaruh pula tindakan tersebut. Dengan kata lain, makin dekatlah mereka dalam mencapai tujuannya.
Salah satu sisi yang paling mengerikan dari terorisme adalah kenyataan bahwa terorisme sama sekali tidak memiliki nilai kemanusiaan dan tidak mengakui aturan apa pun. Orang-orang yang memilih terorisme itu tidak mempunyai cinta, perhatian, belas kasih dan tenggang rasa, dan hanya diperintah oleh perasaan benci, marah, dan dendam. Tanpa disadari, niat orang-orang seperti itu adalah untuk melampiaskan kemarahan mereka dan membalas dendam, tanpa memikirkan lagi akibat perbuatan mereka. Bahwasanya tindakan mereka mungkin akan mengakibatkan kerusakan, sedikit pun tidak menggetarkan nurani mereka. Ini karena nurani orang yang menganggap terorisme sebagai pemecahan, sudah tersumbat, hingga demikian pula akalnya, pertimbangannya, dan pengertiannya.
(Buku Harun Yahya\mkupaiptu (d)\Ritual-Indo\terorisme004.htm)
Rao(2004) menjelaskan bahawa aktifiti terorisme mempunyai beberapa variasi : Penyerangan/attack ke Embassies, Sabotage bombig of embassies, Sabotage di tempat-tempat public dengan target individual, group dan government biasaanya digerakkan kerana idiology politic atau agama. Menurut Rao terrorism ada di kategorikan kerana beberapa hal muncul dari para pemuda yang masih penuh motivasi tinggi, pengaruh keluarga, fanatik, minority, mereka sebagai martir, digerakkan kerana pemahaman idiologi, mental yang tidak seimbang dan tekanan psikology. Biasanya proses pengemasannya sangat scret/rahsia, sehingga susah untuk didteksi kerana terrorism mempunyai struktur yang terputus sehingga tidak dpat dideteksi dengan kasat mata.
Kata Terorisme semakin tidak asing bagi kita ketika kempen untuk memburu dan menghancurkan para teroris diberlakukan oleh Amerika dan sekutunya dengan berbagai makna didalamnya. Sebenarnya issue terorisme global yang merupakan persamaan kata dari tindakan kekerasan, bahkan dengan sadisme (killer) didunia ini muncul sejak lama. Teroris memang musuh bersama (common enemy) kita dan semua setuju bahawa tidak ada satupun ajaran agama di dunia ini memotivasi ummatnya agar supaya melakukan kekerasan (merugikan orang lain). Abad ini semakin di dominasi oleh pertarungan global antara kekuatan –kekuatan globalisasi yang akan menguatkan antara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan bahagian dunia lainnya. Bahkan analisis Huntington tentang pertembungan antar peradaban yang didominasi oleh dua kubu diatas telah melahirkan sentimen-sentimen penting dalam proses kesepakatan dan koalisi global masing-masing blok. Dunia telah dihadapkan kepada penafsiran-penafsiran terhadap terorisme yang berbeza makna bergantung kepada tingkat keperluan bilamana issue itu akan dimunculkan mungkin dalam konteks kepentingan ekonomi, politik dan penguatan superpower.
3.1. Terorisme dan Kekuasaan besar Amerika Serikat dalam dunia global.
Selepas serangan bom 11 September 2001 yang menghancurkan tempat strategis kekuatan ekonomi dunia serta pejabat Pertahanan Pentagon Amerika Serikat iaitu WTC (World Trade Centre), telah menciptakan inspirasi besar bagi Amerika Serikat dan negara barat lainnya untuk menyatakan perang terhadap teroris serta melahirkan terjadinya pergeseran pola hubungan antara negara negara barat dengan negara yang dianggap kompromi dengan teroris. Bahkan secara specific kelompok Islam menjadi tertuduh dalam kasus terorism global ini.
Esposito (2002) masyarakat barat begitu anti terhadap Islam dan selalu membenarkan dasar dan perilaku Amerika Serikat, karena sesungguhnya banyak dasar luar Amerika Serikat yang sangat diskriminatif, tidak adil sehingga pada saatnyalah muncul berbagai perlawanan dan gerakan antiamerikanisme.
Islam telah menjadi mangsa issu terorisme yang diangkat oleh Amerika Serikat, opinion yang dibangun telah membangkitkan banyak gesekan atau kebencian para aktivis yang tinggal di eropa ataupun di Amerika Serikat bahkan negara islam telah menjadi target untuk memburu teroris sehingga tidak hairan manakala Afghanistan dan Irak langsung di serang dan di hancurkan. Sehingga boleh jadi bahwa analisis Huntington tentang konflik agama atau budaya itu akan terus terjadi dimasa hadapan
Huntington (2005) Maka, cukup berbahaya jika pemahaman pertembungan tamaddun terus diyakini baik oleh kalangan Islam maupun Barat. Ide semacam ini implisit menyiratkan bahwa Barat dan Islam, juga peradaban-peradaban lain, haruslah selalu berkonflik sebab itulah realiti tamaddun keduanya. Huntington memang tidak sepenuhnya keliru ketika ia mengatakan bahwa masyarakat kini mengidentifikasikan diri mereka pada keleluhuran, agama, bahasa, sejarah dan nilai, masyarakat lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok budaya (etnisitas), dan pada level yang lebih luas ialah tamaddun. Akan tetapi, tampaknya ia berlebihan jika kemudian berkesimpulan bahwa siapa lawan siapa bukan kemudian kita berkawan dengan siapa, kalau semuanya mempunyai prinsip demikian maka tunggulah perang besar akan terjadi.
Amerika Serikat mempunyai kepentingan besar dibalik kempen melawan dan memburu teroris akhir-akhir ini. Penangkapan dan pembunuhan intelektual Islam dibeberapa negara cukup membuktikan hegemoninya terhadap kepentingan global. Bahkan Jaringan terorisme yang dibuat oleh Amerika Serikat yang belum tentu benar, belakangan ini telah memotong dan menghancurkan aset-aset mereka. Hal ini menunjukkan betapa arogansinya negara yang katanya menjadi pelopor utama Hak Asasi Manusia dan demokrasi. Kes penyerangan Amerika Serikat terhadap Afganistan dengan alasan pemberantasan dan memerangi terorisme harus menghancurkan negara itu, korbannya tiada lain anak-anak, wanita serta warga sipil, disusul kemudian menduduki negara yang berdaulat Irak sebagai negara yang kaya minyak itu, korbannya lagi-lagi anak-anak, wanita, rakyat sivil serta menghancurkan sejumlah aset di negara Islam ini. Pada bahagian lain, anak-anak, wanita dan rakyat sivil Palestina yang di jajah oleh Israel yang juga merupakan sekutu Amerika Serikat.
Selepas perang dingin Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang mempunyai kuasa besar dengan potensi pasar ekonomi cukup besar dengan penguasaan teknologi persenjataan yang luar biasa dapat berbuat sekehendak hatinya terutama kepada negara-negara kecil. Ketidakadilan merupakan satu kata yang tepat padanya. Ada pihak yang merasa diperlakukan secara tidak adil oleh sruktur sistem global. Sistem itu tidak menyediakan alat untuk melihat situasi ketidakadilan tersebut. Sehingga terjadi adalah rasa frustasi berkepanjangan dan jalan peperangan menjadi pilihan.
Chomsky (1986), Margaret Thatcer mengatakan satu-satunya dasar yang kuat bagi New Global Order adalah solidariti barat dibawah Amerika Serikat, Ia sebagai negara yang mempunyai kuasa besar boleh menjadi penyelesai dalam kes-kes antarabangsa, dan Amerika Serikat boleh membawa negara-negara didunia dibawah freedom, demosracy, and its free market economy. Sehingga dalam kes penyerangan ke Irak, Amerika bersikukuh menggelar perang, sedangkan Prancis menentangnya bahkan PBB juga tidak memberikan ijin. Tetapi Amerika Serikat tetap maju terus dan menyerang Irak. Karena posisi diatas tadi, semua negara mesti tunduk Dan patuh terhadap semua dasr-dasar luar Amerika Serikat. Yang lebih mencemaskan, Bush menyerang Irak dengan topangan keyakinan demi pembebasan, bukan penaklukan. Menurut Bush, “Kebebasan bagi rakyat Irak adalah alasan moral yang agung.” Penggulingan Saddam adalah awal bagi suatu kampanye yang akan “membawa demokrasi ke setiap pojok dunia”.
Amerika Serikat selepas perang dingin telah menjadi negara terkuat dan melihat dunia antara yang baik dan yang jahat, mirip situasi anarki Hobbesian. Ketika Amerika punya kekuatan yang tak tertandingi, maka ia seperti punya palu yang melihat dunia seperti paku. Amerika Serikat adalah sang Leviathan, yang akan menyelesaikan anarki dengan paksaan dan kekuatan. Amerika Serikat adalah satu-satunya kekuatan superpower yang belum tertandingi sampai sekarang bahkan anggaran pertahanannya jauh lebih besar dari seluruh anggaran pertahanan negara Uni Eropa dijadikan satu. Menurut Newsweek terbaru, anggaran pertahanan Amerika tahun depan akan lebih besar dari anggaran pertahanan semua negara di dunia (191 negara) dijadikan satu. Kekuatan ekonominya mengalahkan Jepang, Jerman, dan Inggris dijadikan satu. Negeri yang berpopulasi lima persen dari seluruh penduduk dunia ini memiliki 43 persen produksi ekonomi dunia dan 50 persen produksi teknologi tinggi.
3.2. Hegemoni Amerika Serikat dalam dunia global.
Gramsci. (2000). Hegemoni merupakan penindasan dengan kekerasan persuasif yang dilakukan oleh suatu kelas untuk menjalankan kuasanya kepada kelas-kelas dibawahnya[1]. Salah satu mekanisme yang dilakuakn kaum kapitalis adalah dengan cara melakukan kawalan intelektual iaitu satu bentuk sosial kontrol yang dilakukan kelas atasan (borjuis) dengan menggunakan elemen-elemen super struktural kepada kelas bawahan atau proletar. Elemen ini terdiri dari Agama, pendidikan, ideologi, bahasa dan budaya yang digunakan oleh kelas atasan sebagai alat untuk menguasai minda masyarakat secara tidak sadar dalam ruang sivil . Konsep hegemoni Gramsci mengisyaratkan tentang kepemimpinan dan pelaksanan sebagai syarat untuk memperoleh kekuasaan negara, Sesiapa sahaja kelas yang memimpin dan mempunyai kuasa maka secara langsung atau tidak langsung ia menghegemoni kelas yang lain. Gramsci mengajukan konsep hegemoni menurut beliau mencakup peran kapitalis dan ahlinya, baik dalam merebut kekuasaan negara maupun dalam mempertahankan kekuasaan yang sudah diperoleh. Maka hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan dengan kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemoni adalah suatu organisasi konsensus.
Teori hegemoni inilah yang bagi Gramsci mensyaratkan penggunaan kekuatan paksaan negara hanya sebagai pilihan terakhir apabila kesadaran spontan menemui kegagalannya. Bila pemikiran ortodoks mengantar ke negara komunis totalitarian, ide Gramsci yang mengedepankan konsensus justru menginginkan sentralisme demokratis yang menawarkan rumusan yang elastis yang akan tetap hidup jika terus menerus ditafsirkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Hagemoni Amerika Serikat ternyata telah cukup lengkap dijelaskan oleh teori Gramsci, Amerika Serikat telah mengawal opinion Public dunia ( Oppinion Public hegemony), seperti halnya mengenai hal terorisme, misalnya, Amerika Serikat menciptakan opinion yang dipaksakan untuk dilaksanakan oleh seluruh negara lain, seperti apa yang diinginnya. Berbagai-bagai dasar yang mereka buat telah banyak memberikan penderitaan di sebahagian negara khasnya negara dke tiga, hal ini kerana sudah benyak negara-negara yang telah menjadi mangsa penghegemonian Amerika Serikat sekarang telah melahirkan konflik bersaudara, terjadi kemiskinan, hutang yang banyak dan lain-lain. Bahkan ketika Osamah Bin Laden yang dituduh menyerang gedung World Trade Center di New York, seluruh dunia bereaksi dan bersetuju apa yang dikatakan oleh pemimpin Amerika Serikat mengenai terorisme.
Pengertian Hak Asasi Manusia dan demokrasi juga banyak dikaitkan dengan definisi Amerika Serikat dan negara maju lainnya. Sementara Amerika Serikat terbukti mendukung berbagai rezim, seperti di Gautemala, Nicaragua dan di Amerika Latin yang melakukan pelanggaran Hak Asasi terhadap rakyatnya, hanya di dukung oleh pemerintah Amerika Serikat. Israel yang setiap hari membunuh rakyat sivil Palestin, sebagaimana dalam agresi Amerika Serikat ke Irak hanya jadi tontonan di seluruh dunia.
Dalam hal penguasaan media, selama ini Amerika Serikat yang terkenal sebagai penegak demokrasi kemerdekaan pers, tetapi dalam perang Badai Gurun dan invansinya ke Irak, membuktikan kebohongan dan standar ganda Amerika Serikat pada apa yang disebutnya kebebasan pers. Berbagai-bagai informasi harus di kawal sesuai dengan dasar mereka, televisen Aljazeera telah dikawal dengan baik, bahkan Media Watch Amerika Serikat mencaci akhbar dan televisen yang beritanya bertentangan dengan berita media utama di Amerika Serikat.
6.0. Referensi
Chomsky. Noam. 1986. International Terrorism in the Ream World. Amana Book, Inc.
Esposito. John. 2002. Un Holy War: Terror in the Name of Islam. Diterjemahkan oleh Arif Maftuhin. LkiS Yogyakarta Indonesia.
Esposito, John. 1999. Islam Modernism and the West. The Eleni Foundation
Gramsci, Antonio. 2000. Sejarah dan Budaya. Pustaka Pramethea Surabaya. Indonesia.
Huntington, Samuel. 2005. Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Penerbit Qalam. Yagyakarta.
Kegley, Charles. 1990. The New Global Terrorism. Pearson Education. New Jersey
Mohd Izani Mohd Zain. 2004. Fundamentalis Islam: Konflik Antara Islam Dan Barat. Dalam Mohd Azizudin Mohd Sani. Mas Juliana Mukhtaruddin. Mohd Baharudin Othman. 2004.Globalisasi Dalam Perspektif: Isu dan Cabaran. IBS Buku SDN.BHD Selangor Darul Ekhsan. Malaysia.
Rao, Deepak, Seema. 2004. Terrorism A Comprehensive Analysis of World Terrorism . A.P.H.vPublishing Corporation. New Delhi
Shaharom TM Sulaiman. 2002. Terorisme Global Dan Pengganas Agama : Cabaran Hidup beragama Pada Alaf Baru. Utusan Publications & Distributors Kuala Lumpur.
Buku Harun Yahya\mkupaiptu (d)\Ritual-Indo\terorisme004.htm
[1] Dalam catatannya terhadap karya Machiavelli, The Prince, Gramsci mengartikan penghegemonian sebagai sesetengah binatang dan sesetengah manusia, kerana merupakan simbul tindakan politik ganda, kekuatan dan konsesnsus, otoritas dan hegemoni, kekerasan dan kesopanan iaitu dengan menggunakan sistem kepemimpinan politik dan ideologi